Showing posts with label KAJIAN ILMU DAN RENUNGAN. Show all posts
Showing posts with label KAJIAN ILMU DAN RENUNGAN. Show all posts

NIAT SAAT MENIKAH (KALAM SALAF bersama Habib Jindan (Pengasuh PonPes Al-Fakhriyah, Ciledug, Tangerang)

Dalam kitab Tasbitul Fu’ad, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menyebutkan tentang adanya penyakit yang menimpa banyak anak kecil pada saat itu, sehingga banyak diantara mereka yang meninggal dunia.
Mengomentari hal tersebut, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan,”Mungkin berjatuhannya korban kematian mereka itu disebabkan beberapa perkara, seperti ketidakberesan yang terjadi dalam pernikahan orangtua mereka walaupun kita tidak mengatakn itu sebagai zina, atau mungkin juga disebabkan karena kurang peduli dengan kesucian ketika bersetubuh serta adab-adabnya, seperti dzikir dan sebagainya. Kenapa orang-orang zaman sekarang jauh dari niat-niat yang mulia dalam melaksanakan pernikahan? Mereka sangat lalai akan hal ini, bahkan dari niatan yang minimal sekalipun, yaitu untuk melaksanakan sunnah atau menjaga diri dari kemaksiatan atau menjaga mata dari yang haram. Kebanyakan diantara mereka niatnya sebatas melampiaskan syahwat. Hingga kalaupun mereka memperoleh anak, yang terlahir hanyalah keturunan yang membuat mereka lupa dan lalai kepada ALLAH.”
Niat memang memiliki posisi sangat istimewa dalam ajaran islam. Kali ini, kita membicarakan niat terkait dengan salah satu tahapan kehidupan yang selalu dilewati oleh setiap orang, yaitu pernikahan.

Dalam hal ini, para ulama menyarankan kepada setiap orang yang menikah agar meniatkannya dengan niat-niat sebagai berikut:
  1. Saya menikah dengan niat untuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW.
  2. Saya menikah dengan niat untuk menjaga mata dari pandangan yang haram.
  3. Saya menikah dengan niat untuk mendapatkan keturunan yang dapat memperbanyak jumlah umat islam.
  4. Saya menikah dengan niat untuk meraih kecintaan ALLAH dengan berusaha mendapatkan keturunan yang bisa melanjutkan generasi umat manusia.
  5. Saya menikah dengan niat untuk meraih kecintaan Nabi Muhammad SAW demi memperbanyak umatnya yang berkualitas hingga kelak di hari kiamat Rasulullah SAW bangga dengan hal tersebut. Dalam hadits disebutkan, “Menikahlah dan perbanyaklah keturunan! Sebab aku akan membanggakan kalian di hadapan umat-umat lain kelak di hari kiamat.”
  6. Saya menikah dengan niat untuk memperoleh keberkahan dari do'a-do'a yang dipanjatkan seorang anak shalih setelah saya wafat kelak,sekaligus berharap pertolongan dan syafa’at dari anak-anak tersebut jika mereka meninggal ketika masih kecil.
  7. Saya menikah dengan niat untuk menjaga kehormatan istri dan memenuhi kebutuhannya, serta berniat untuk mencukupi nafkah istri dan anak-anak.
  8. Saya menikah dengan niat untuk menjaga diri dari setan, menghilangkan kerinduan dan kecenderungan syahwat yang negatif, menjaga kemaluan dari perbuatan hina, menjaga pandangan, dan mengusir rasa was-was.
  9. Saya menikah dengan niat untuk menyenangkan dan membahagiakan diri dengan cara duduk bersama pasangan atau memandang serta yang lainnya, agar bisa bertambah giat dan lebih tenang dalam beribadah.
  10. Saya menikah dengan niat untuk mengurangi kesibukan hati dalam mengatur rumah, mengerjakan pekerjaan dapur, menyapu dan membersihkan perabotan, serta mendapatkan kemudahan hidup.
  11. Saya menikah dengan niat untuk melatih diri dalam hal bertanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga, berusaha memenuhi kebutuhan istri, sabar atas kelakuan dan keburukan mereka, berusaha memperbaiki akhlaq mereka, membimbing mereka kepada kebaikan, mencari rizqi yang halal untuk mereka, serta menjalankan kewajiban dalam mendidik anak-anak dengan pertolongan ALLAH.
  12. Saya menikah dengan niat pada semua niat tersebut dan niat lainnya dari semua yang saya curahkan, saya ucapkan, dan saya kerjakan, dalam urusan pernikahan ini, karena ALLAH SWT.
  13. Saya menikah dengan niat seperti yang telah diniatkan oleh para hamba ALLAH yang shalih dan para ulama yang mengamalkan ilmunya. (Kemudian berdoa) “Yaa ALLAH, berikan taufiq kepadaku seperti halnya Engkau memberi taufiq kepada mereka, dan tolonglah aku seperti halnya Engkau telah menolong mereka.”
    Semoga ALLAH memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.
    Amiin….

    http://syafii.blogdetik.com
Continue Reading

Ceramah Habib Jindan, Pada Haul Habib Ali AlHabsyi Maret 2011

Ceramah agama yang diberikan oleh alhabib jindan bin nouval bin salim bin jindan pada saat acara houl alhabib ali alhabsyi pengarang maulid simtudduror, dikota solo pada tahun 2011.

PART I


PART II
Continue Reading

Wasiat Nasihat Al Habib Ali Bin Muhammad Bin Husain Al-Habsy

Al-Imm Al-Allamah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi. Pengarang Maulid Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

“Camkanlah, jangan sampai kalian tidak mempelajari ilmu bahasa, Nahwu dan shorof. Karena ilmu bahasa merupakan dasar dan perantara kalian untuk memahami semua ilmu.”
“Wahai saudaraku, berprasangka baiklah kepada Allah SWT, wujudkanlah kebenaran janji-Nya, dan rasakanlah kebesaran rahmat-Nya. Cukuplah bagi kita firman Allah SWT, seperti disabdakan Rasulullah SAW, “Aku bersama prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sesukamu.”


“Jika seorang hamba memedulikan penyakit hati seperti penyakit badan, niscaya mereka akan mendapatkan tabib di hadapan mereka. Tetapi, sedikit sekali yang membahas masalah ini, karena mereka telah dikuasai nafsu dan akal.”
“Jika tak ada ketamakan dan tak ada satu mahluk pun keluar dari lingkaran jejak Nabi SAW, tidak akan ada manusia mengejar dunia yang fana ini atau berpaling dari kebahagiaan akhirat yang kekal.”

“Tak ada derajat yang lebih tinggi daripada prasangka baik. Karena di dalam prasangka baik terdapat keselamatan dan keberuntungan. Didalam keluasan rahmat Allah SWT sirnalah amalmu seperti amal setiap mahluk. Didalam rahasia Allah SWT yang dititipkan pada mahluk-Nya, terdapat sesuatu yang mengharuskan untuk berkeyakinan bahwa semua mahluk adalah Aulia.”

“Keteguhan yang sempurna berbeda-beda. Keteguhan dalam perkataan berbeda dengan keteguhan dalam perbuatan. Keteguhan perbuatan berbeda dengan keteguhan dalam beramal. Keteguhan dalam beramal berbeda dengan keteguhan dalam mencari. Keteguhan dalam mencari berbeda dengan keteguhan dalam apa yang dicari. Sedangkan hakikatnya, secara utuh dan merupakan kedudukan yang terakhir, adalah tidak memalingkan pandangan dari Allah swt sekedip mata pun, bahkan yang lebih cepat dari itu.”

“Janganlah kau putuskan kehadiranmu di tempat-tempat yang baik karena alasan kesibukan dunia. Hati-hatilah, karena itu merupakan tipu daya setan. Hadirkanlah Allah SWT ketika sendirian. Sembahlah Dia, seakan melihatnya dan jika tidak melihatnya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

“Tutuplah mata dari perhiasan dunia dan segala kenikmatan fana yang dimiliki budak-budaknya serta kenikmatan yang akan terputus. Sesungguhnya semuanya seperti kau saksikan bahwa dunia ini cepat berpindah dan dekat kefanaannya.”

“Jadikanlah Al-Qur’an dan zikir kepada Allah SWT bacaan sehari-harimu. Bertafakurlah terhadap nikmat Allah SWT. Jika mungkin, setiap waktu hanya ada antara dirimu dan Allah SWT dan pada saat itu telitilah diri sendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Telitilah dirimu sebelum kalian diteliti.” Seseorang yang meneliti dirinya di dunia, perhitungan baginya akan lebih ringan di Akherat kelak.”

“Orang yang lalai mengira bahwa dirinya mencapai kelezatan dunia tanpa mengetahui bahwa sebenarnya kemanisan dunia bercampur dengan kepahitannya. Sedangkan kehidupan indah yang sebenarnya adalah berpaling dari dunia, kemudian masuk ke hadirat yang Maha Kaya dengan sifat faqir, miskin, lalu memetik sesuatu yang indah dari tempat itu.”

“Kerjakanlah segala perintah Allah SWT dan tinggalkanlah larangan-Nya. Jangan sampai Allah SWT melihatmu melakukan apa yang dilarang-Nya. Bangkitlah untuk memenuhi hak Allah SWT. Bersemangatlah melakukan sesuatu yang membuat para salaf Mulia.”

“Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan qurb (kedekatan) kepada Allah SWT, air telaga dari celah wishal ( persatuan dengan Allah SWT ) dan pengetahuan pada puncak tujuan.”

“Yang selalu memperlambat terkabulnya doa’ seorang hamba adalah karena harapan yang rendah : mengharapkan sesuatu dari mahluk. Angkatlah pandanganmu secara keseluruhan kepada zat yang dibutuhkan semua mahluk….maka akan tampak tanda-tanda terkabulnya doa’.”

“Niat merupakan pondasi amal. Seseorang akan memperoleh karunia sesuai dengan niatnya. Betapa sering niat membuat orang yang jauh dari Allah SWT menjadi dekat kepada-Nya dan merubah sesuatu yang sulit menjadi ringan. Oleh karena itu, dalam setiap perbuatan, ucapan dan amalnya seorang Mukmin, hendaknya menerapkan niat yang baik. Tidak ada seorang pun yang mencapai kesuksesan dan keberhasilan kecuali karena niat yang baik. Sabda kekasih Allah SWT yang paling Agung, Al-Musthafa SAW di bawah ini cukup menjadi bukti keutamaan niat . Rasulullah SAW bersabda :

إنّماالأعمال بالنّيّات

Sesungguhnya (balasan) setiap amal tergantung dari niatnya.
(HR. Bukhari dan Muslim)

نّيّة المؤمن خير من عمله

Niat seorang Mukmin lebih baik daripada amalnya.


Sudah menjadi sifat seorang Mukmin untuk menetapkan berbagai amal yang agung dan berusaha mengamalkannya, padahal dia hanya mampu mengamalkan sebagian darinya. Sebagai contoh adalah orang yang berniat menggunakan semua nafasnya (waktunya) untuk membaca wirid, dzikir atau untuk berpikir. Ternyata dia hanya mampu menggunakan sebagian waktunya saja. Apa yang telah dia kerjakan itu baik, tapi niatnya tersebut lebih baik dari amal yang telah dia kerjakan.”

“Motivasi tobat sangat banyak, tetapi penyebab paling kuat adalah renungan (fikir). Renungkanlah berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT kepadamu sejak engkau berupa mani, hingga menjadi manusia sempurna yang lahir ke alam ini dan berbagai nikmat lainnya yang kau peroleh hingga saat ini. Renungkanlah semua nikmat Allah SWT dalam setiap masa pertumbuhanmu. Sebab dalam setiap napas terdapat banyak nikmat Allah SWT. Jika engkau renungkan semua ini, maka dalam dirimu akan muncul rasa cinta kepada Allah SWT. Karena sudah menjadi watak hati untuk mencintai siapapun yang berbuat baik kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW ” Dan hakikatnya yang berbuat baik kepadamu adalah Allah SWT”.

Cinta (kepada Allah SWT) merupakan jalan paling mulia yang dapat membuat seseorang bertobat. Demi menyenangkan kekasihnya, seorang pecinta dapat melakukan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Apalagi untuk hal-hal yang mampu ia lakukan. Seorang pecinta akan berusaha sekuat tenaga meninggalkan segala sesuatu yang dapat membuat kekasihnya murka. Cinta adalah buah terbesar fikr.

Merenung (Fikr) akan membuahkan rasa malu. Jika engkau merenungkan berbagai nikmat yang diberikan Allah swt kepadamu, maka engkau akan malu menggunakan berbagai nikmat itu untuk bermaksiat kepada-Nya.

Selain membuahkan cinta dan rasa malu yang merupakan motivasi terkuat untuk bertobat, maka merenung juga membuahkan rasa takut kepada Allah SWT (khosyyah). Seseorang yang memikirkan berbagai bencana yang akan dia peroleh karena maksiat; seperti pengusiran, kemurkaan, siksa dan hijab serta menyadari keagungan dan kebesaran Allah SWT dan betapa keras siksa-Nya, maka mau tidak mau dia akan sangat takut kepada Allah SWT.”

Wallahu A`lam..

SUMBER : http://ahlulkisa.com/

Continue Reading

Mutiara Nasehat - Habib Umar bin Hafidz


  1. Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah.
  2. Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin takut.
  3. Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
  4. Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.
  5. Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
  6. Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
  7. Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.
  8. Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
  9. Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.
  10. Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.
  11. Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
  12. Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) , lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.
  13. Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
  14. 14. Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.
  15. 15. Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
  16. 16. Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
  17. 17. Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
  18. Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih- Nya.
  19. Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.
  20. Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.
  21. Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
  22. 22. Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.
  23. 23. Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.
  24. Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
  25. Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.
  26. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
  27. Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.


Wallahu wa Rasuluhu ‘alam bish showab, wal ‘afuminkum.
Wassalamu’alaikum warrahmatullah wa barakatuh.
Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!
Continue Reading

7 Golongan Yang Akan Dinaungi Oleh Alloh

“Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.
  1. Pemimpin yg adil,
  2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya,
  3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid
  4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
  5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai
    kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia
    berkata, ‘Aku takut kepada Allah’
  6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah
    tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan
  7. Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah
    air mata dr kedua matanya” (HR. Bukhari & Muslim) “Dari Abu
    Hurairah ‘Abdurrahman Bin Shakhr RA, Rasulullah SAW bersabda:
    Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula
    melihat rupamu tetapi Allah melihat hatimu.” (HR. Muslim)
Continue Reading

Mengapa Doa Tidak Dikabulkan?

Segala puji bagi Alloh SWT yang senantiasa memberikan anugerah bagi kita sekalian.
Sholawat salam semoga senantiasa tecurah pada baginda Nabi Muhammad SAW.
Islam sedah mengajarkan kepada kita semua agar senantiasa berdo`a kepada Alloh SWT,
Bahkan dalam sebuah Hadits bersabda ;
Berdo`a Itu Ibadah
(HR.AbuDaud dari An-Nu`man bin basyir r.a Kitab Al-Adzkar Hal 345)
Firman Allah SWT ;
“Dan Tuhanmu berfirman : Berdo`alah kepada-KU niscaya akan aku kabulkan.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku mereka akan masuk neraka jahanam dengan penuh kehinaan “ (Q.S. Al-Mu`min:60)
Ayat di ataas sangat jelas, bahwa Alloh SWT yang Maha Mendengar akan mengabulkan
Do`a hamba-Nya. Namun dalam kenyataannya, masih sering kita mendengar keluhan dari banyak saudara kita, “setiap hari aku menengadahkan tangan memohan kepada Alloh SWT,
Tetapi apa yang dimintanya tidak kunjung di jawab”. Timbul pertanyaan “Mengapa permohonan kita itu masih belum di kabulkan oleh Alloh SWT ?”
Untuk mengetahui kendala-kendaladi kabulkannya do`a tersebut, berikut nasehat seorang Syekh Imam Ibrahim bin Adam’ yang di tukil dari “Kitab Hayatul Qulub”.
Diriwayatkan oleh ‘Imam Syaqiq Al-Balkhi’, bahwa ketika Imam Ibrahim berjalan ke pasar Basrah (Kota terkenal di Iraq), beliau menerima pertanyaan dari sebagian penduduk “Mengapa nasib kami masih belum berubah, padahal siang dan malam kami selalu berdo`a,  padahal Alloh SWT telah berjanji akan mengabulkan-Nya”.
Syekh Imam Ibrahim bin Adham menjawab dengan tegas: “Wahai penduduk Basyrah ! Hati kalian telah mati pada sepuluh perkara, maka bagaimana mungkin do’a kalian akan dikabulkan.?”
Kemudian beliau menyampaikan sepuluh kendala tersebut, yaitu:
  1. “Kalian mengenal Alloh SWT, tetapi tidak memenuhi hak-Nya.”
  2. “Kalian membaca Al-Quran tapi tidak mengamalkan isi-Nya.”
  3. “Kalian mengaku cinta kepada Rasululloh, tetapi sunah-Nya ditinggalkan,”
  4. “Kalian mengaku memusuhi syetan, tetapi mematuhi dan menyetujuinya.”
  5. “Kalian mengaku ingin masuk surga, tetapi tidak mau beramal untuk [meraih]-nya.”
  6. “Kalian mengaku ingin selamat dari api neraka, tetapi menjerumuskan diri kalian sendiri kedalamnya.”
  7. “Kalian sibuk memeikirkan dan mengurus aib saudara kalian, tetapi tidak melihat aib diri sendiri.”
  8. “Kalian memerintah kepada manusia untuk berbuat baik, tetapi melupakan diri sendiri.”
  9. “Kalian memerintahkan orang lain untuk mengeluarkan zakat, tetapi engkau tidak mengeluarkannya.”
  10. “Kalian ikut menguburkan orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.”
Continue Reading

Mau Jadi Apa ???

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan bertanya mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tau bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah, ia sudah lelah berjuang dan sepertinya setiap kali suatu masalah selesai timbul masalah baru.

Ayahnya lalu membawanya kedapur, ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya diatas api.Setelah air dalam panci tersebut mendidih ia menaruh WORTEL didalam panci pertama, TELUR  dipanci kedua, dan KOPI dipanci terakhir. Sang ayah membiarkan ketiganya hingga mendidih tanpa bicara sepatah kata pun. Sianak hanya bisa diam dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dikerjakan oleh ayahnya.

Setelah 20 menit berlalu, sang ayah mematikan api, dan menyisihkan WORTEL, TELUR juga KOPI lalu menaruhnya dimangkuk. Lalu sang Ayah bertanya kepada ayhnya, "Apa yang kau lihat Nak?" WORTEL, TELUR, dan KOPI, jawab sang anak. 

Lalu sang ayah meminta si anak untuk merasakan WORTEL, dan didapati wortel itu terasa lunak, kemudian sang ayah meminta si anak untuk mengambil TELUR dan memecahkannya. Seteleh membuang kulitnya ia dapati TELUR rebus yang mengeras. Terakhir ayahnya meminta anaknya untuk mencicipi KOPI, ia tersenyum ketika mencicipi KOPI dengan aromanya yang khas.

Sang anak bertanya kepada ayah, apa arti dari semua ini wahai ayahku?.

Sang ayah menjelskan kepada anaknya bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama yaitu perebusan, dan masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.  

WORTEL yang sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan, tapi setelah direbus menjadi lunak.  

TELUR, sebelumnya mudah pecah, cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan, tetapi setelah direbus isinya menjadi keras. Sedangkan  

BUBUK KOPI mengalami perubahan yang unik, setelah berada di dalam rebusan air. Bubuk kopi merubah air tersebut.

Kamu termasuk yang mana, tanya sang ayah kepada anaknya. Ketika kesulitan mendatangimu bagaimana kamu menghadapinya? Apakah kamu WORTEL, TELUR, ataukah BUBUK KOPI? 

Apakah kamu WORTEL, yang kelihatannya keras tetapi setelah mengalami penderitaan dan kesulitan kamu menyerah, melunak, dan menghilangkan kekuatanmu.

Apakah kamu TELUR, yang awalnya memiliki hati yang lembut dan jiwa yang dinamis, namun setelah didera kesulitan kamu menjadi keras dan kaku.

Ataukah kamu adalah BUBUK KOPI, bubuk kopi mengubah air panas ketika air mencapai suhu terpanas, dan kopi terasa semakin nikmat.

So ....!
Jadilah engkau Bubuk Kopi, ketika keadaan semakin buruk disekitarmu, kau tetap mampu menghadapinya dan mampu memberi warna dan aroma yang sedap bagi lingkunganmu.
Continue Reading

Pikirkanlah Sebelum Kamu Mengeluh

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkanlah tentang orang-orang yang tidak punya apa-apa untuk dimakan.

Sebelumm kamu mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkanlah tentang orang-orang yang harus meminta-minta di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkanlah tentang orang-orang yang berada ditingkat yang terburuk dalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang pasanganmu, pikirkanlah tentang orang-orang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup.

Sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu, pikirkanlah tentang orang-orang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkanlah tentang orang-orang yang sangat ingin mempunyai anak, tetapi dirinya mandul.

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai, pikirkanlah tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya.

 Sebelum kamu mengeluh jauhnya kamu menyetir, pikirkanlah tentang orang-orang yang menempuh jarak yang saama dengan kamu dengan berjalan kaki.

Dan, disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkanlah tentang orang-orang yang yang menganggur serta orang-orang cacat yang mencari pekerjaan seertimu.

Sebelum kamu menunjukan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain, pikirkanah berapa kali kamu berbuat salah kepada orang lain.

Jika kamu mampu untuk berpikir dahulu sebelum kamu mengeluh, maka ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan. Kamu masih bisa bersyukur kepada Allah bahwa kamu masih diberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki semuanya sebelum kematian menjemput.
Continue Reading

Menerima Orang Lain Apa Adanya

Sorang pelajar yang baru saja pulang medan perang menelpon orang tuanya dirumah. Orang tuanya begitu senang mendengar bahwa anaknya telah kembali, mereka segera menyuruh pemuda itu untuk pulang kerumah. Pemuda itupun sudah tidak sabar lagi rasanya untuk berkumpul kembali dengan keluarganya setelah berbulan-bulan lamanya ia harus berada di negara lain untuk berperang.

Lalu pemuda itu menanyakan kepada orang tuanya, apakah ia boleh membawa sahabatnya untuk tinggal bersama mereka. Orang tuanya setuju saja, lagi pula mereka masih punya satu kamar ekstra dirumah itu. Dan pemuda itu menjelaskan kepada orang tua atau keluarganya, "satu orang tentu tidak akan merepotkan. Tetapi, sahabatku itu cacat. Ia hanya memiliki satu lengan dan satu kaki saja." Demikian pemuda itu menjelaskan kepada orang tua atau keluarganya agar tdak terkejut.

Mendengar hal itu, orang tua atau keluarganya mengurungkan niatnya dan berkata "Tidakkah sebaiknya kita membawa temanmu itu ke Panti Perawatan Korban Perang? Kita akan kerepotan mengurus segala keperluannya. Sudahlah, sebaiknya kamu segera pulang saja,  kami sudah sangat merindukanmu. Besok pagi kami akan segera menjemputmu, dan dimana sekarang kamu berada?.  Mendengar jawaban yang mengeceawan, pemuda itu memberikan alamat hotelnya dan menutup telpon dengan sangat kecewa.

Keesokan harinya, orang tua dan keluarga pemuda itu menjeputnya dihotel dan mendapat kabar bahwa pemuda itu telah bunuh diri. Setelah orang tua dan keluarganya melihat mayat  pemuda itu, betapa hancur hati mereka mengetahui bahwa ternyata pemuda itu hanya memiliki satu lengan dan satu kaki.

*****

Sering kali kita lupa bahwa mengasihi adalah menerima diri orang lain SEUTUHNYA tanpa syarat apapun. 

Mengasihi suami bukanlah hanya pada saat dirinya begitu gagah dan mapan pekerjaannya.

Mengasihi istri adalah menerima dirinya apa adanya dengan kondisi fisik seprti apapun.

Mengasihi anak adalah bisa memuji dan memberinya semangat sekalipun kemampuannya jauh dibawah rata-rata anak seusianya.

Mengasihi orang tua adalah bangga memiliki mereka sekalipun mereka bukan orang tua yang sempurna.

MENGASIHI ADALAH MENERIMA ORANG LAIN APA ADANYA
Continue Reading

Saat Cinta Itu Pergi

Pernahkan kalian merasakan bahwa kita mencintai seseorang yang  kita tau jika ia tidak sendiri lagi, dan kita ta bahwa ia tak pernah membalas cinta kita, namun kita tetap mencintainya?

Pernahkah kamu merasakan bahwa kamu sanggup melakukan apapun demi orang yang kamu cintai, meski kau tau ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti tapi ia tetap pergi?


Pernahkah kau merasakan hebatnya cinta?
Tersenyum kala terluka ...
Menangis kala bahagia ...
Besedih kala bersama ...
Tertwa kala berpisah ...
Aku Pernah!
Aku pernah tersenyum meski terluka, karena yakin Tuhan akan menjadikannya untukku.

Aku pernah menangis kala bahagia, karena takut kebahagian ini akan sirna begitu saja.

Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena takut akan kehilangan dia suatu hari nanti.

Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi cinta tak harus memiliki dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Aku tetap bisa mencintainya meski ia tak dapat ku rengkuh dalam pelukaknku, karena cinta memanga ada dalam jiwa bukan dalam raga.

Semua orang pasti pernah merasakan cinta, baik dari orang tua, sahabat, kekasih, dan akhirnya pasang hidupnya.

Untuk kalian yang sedang jatuh cinta selmat, karena cinta itu indah, dan semoga kalian bahagia.

Untuk yang sedang terluka karena cinta, hidup itu bagaikan roda yang tersu berputar. Suatu saat akan berada dibawah dan hidup terasa begitu sulit, akan tetapi keadaan itu bukanlah selamanya. Bersabar dan berdo'alah. Karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.

Dan untuk kalian yang suka mempermainkan cinta, sesuatu yang begitu murni dan tulus bukanlah untuk dipermainkan. Dan cinta bukan suatu kehampaan, semoga kalian berhenti mempermainkan cinta dan merasakan kebahagiannya.

Jadi hargai dan nikmatilah CINTA yang ada, karena tidak ada sesuatu yang mampu membuatmu lebih bahagia dari kebahagian yang didapat dari sebuah CINTA.
Continue Reading

Kematian Gerbang Penyesalan

“Majelis dzikir yang paling utama adalah majelis yang mengajarkan bagaimana kita benar dalam beribadah kepada Allah SWT.”

Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW mendapat berita bahwa seorang sahabat yang tinggal jauh dari Madinah telah wafat. Ketika itu Rasulullah baru saja bermaksud menanyakan kabar terakhir sahabat itu, karena sebelumnya beliau mendengar bahwa ia sakit dan beliau belum sempat menjenguk karena jarak yang begitu jauh. 

Mendengar berita bahwa sahabat yang ditanyakan telah wafat, Rasulullah SAW bertanya kepada orang yang membawa berita, “Apakah ia mengatakan sesuatu sebelum meninggalnya?” 

Orang itu menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” 

“Apa yang diucapkannya?” tanya Rasulullah SAW.

“Andaikan Dulu...”
“Ia mengucapkan, ‘Aduhai, coba andaikan dulu itu banyak. Aduhai, coba andaikan dulu itu baru. Aduhai, coba andaikan dulu itu sempurna.’ Dan sungguh kami semua tidak mengerti apa yang dimaksudkannya dengan ‘banyak, baru, dan sempurna’ itu,” tutur sahabat pembawa berita tadi kepada Nabi SAW.

“Maksud ucapannya ‘andaikan dulu itu banyak’, suatu ketika ia hendak melaksanakan shalat berjama’ah. Di jalan, ia berjumpa seorang yang buta. Maka ia menuntun orang buta itu menuju masjid untuk shalat berjama’ah. Pada saat ia hendak meninggal, Allah SAW tunjukkan betapa besarnya pahala amalnya ketika menuntun orang tua buta menuju masjid itu. Itulah sebabnya ia berkata, ‘Andaikan dulu itu banyak.’ Banyak kesempatan menolong orang buta dan kesempatan baik lainnya untuk tidak disia-siakan, karena begitu besar pahalanya.

Ucapannya ‘andaikan dulu itu baru’, maksudnya, suatu ketika ia keluar hendak shalat Shubuh berjama’ah. Kala itu cuaca teramat dingin dan berkabut. Di tengah jalan ia menjumpai orang tua di pinggir jalan tengah menggigil kedinginan, mungkin tidak akan selamat karena menahan dingin yang begitu mencekam kalau tidak segera ditolong. Pada saat itu si Fulan mengenakan dua lapis pakaian, sehelai pakaian yang baru dan sehelai lainnya sudah usang. Melihat kondisi orang itu, ia melepaskan pakaian tebalnya yang sudah usang dan memberikannya kepada si tua yang tengah menggigil kedinginan. Pada saat hendak meninggal, Allah SWT tunjukkan betapa besar pahala yang akan diterimannya karena telah memberikan baju usangnya kepada si tua itu. Itulah sebabnya ia berkata, ‘Andaikan dulu itu baru.’ Bukan yang usang yang ia berikan kepada orang tua itu. Pastilah lebih besar lagi pahala yang akan Allah SWT berikan.

Adapun ucapannya ‘andaikan dulu itu sempurna’, madsudnya, suatu ketika ia pergi berdagang seperti kebiasaannya. Sepulang berdagang ia segera menemui istrinya seraya menanyakan apakah ada makanan yang tersedia, karena lapar sudah teramat terasa sehingga tubuhnya mulai lemas. Sang istri memberitahukan bahwa tidak ada makanan yang tersisa kecuali hanya sekerat roti kering. Karena sudah tak lagi mampu menahan rasa lapar, ia meminta istrinya untuk segera mengambil roti tersebut dengan segelas air untuk mengganjal perutnya. Baru saja hendak menyantap roti itu, tiba-tiba terdengar ada seseorang mengetuk pintu dari luar. Buru-buru ia membuka pintu dan didapatinya seorang tua lusuh berdiri di depan pintu. Orang itu memohon agar ia sudi memberikan makanan untuk menghilangkan rasa laparnya yang sudah teramat berat dirasakan karena seharian tidak menemukan makanan apa pun. Menyaksikan orang tua nan teramat lusuh itu, hatinya merasa iba. Sekerat roti yang hendak dimakannya tadi ia belah menjadi dua bagian dan ia memberikan satu bagian kepada orang tua lusuh tadi. Pada saat menjelang kematiannya, Allah SWT memperlihatkan besarnya pahala yang akan diterimanya karena amalanya menolong orang tua lusuh itu dengan memberinya sepotong roti. Itulah sebabnya ia berkata, ‘Andaikan dulu itu sempurna.’ Sempurna yang ia berikan kepada orang tua yang lapar itu, pastilah akan lebih besar dan sempurna lagi pahala serta balasan yang akan diterimannya,” tutur Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabat yang ada di sekeliling beliau pada saat itu tentang maksud ucapan sahabat yang diberitakan telah meninggal dunia tersebut.

Menghormati Orang Tua
Dalam riwayat yang lain, suatu ketika Imam Ali bin Abi Thalib RA hendak menuju masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah. Di tengah jalan, ia perlahankan langkahnya karena di depannya terdapat orang tua yang juga berjalan pada arah yang sama. Imam Ali terus berjalan di belakang orang tua itu dan tidak mendahuluinya meskipun ia tahu akan tertinggal jama’ah. Begitu mulia akhlaq Imam Ali dalam menghormati orang tua. Ini karena ia selalu mengingat sabda Rasulullah SAW, “Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang tua di antara kami dan tidak menyayangi orang yang kecil di antara kami.”

Setelah beberapa saat berada di belakang orang tua itu, sesampainya di depan masjid, ternyata orang tua itu tidak masuk ke dalam masjid, karena ternyata dia orang Yahudi.

Imam Ali kemudian memuji Allah SWT. Ia berucap, “Alhamdulillah.”

Di dalam masjid, Rasulullah SAW tengah mengimami shalat berjama’ah. Ketika Imam Ali masuk ke dalam masjid, Rasulullah dan para sahabat sedang ruku’ rakaat keempat. Agak lama beliau tetap dalam posisi ruku’ sampai Imam Ali masuk ke dalam shaf. Setelah itu barulah Rasulullah mengangkat kepalanya. Dan kali itu Rasulullah tidak membaca bacaan yang biasa dibaca saat kembali dari ruku’ (“Allahu Akbar”). Beliau membaca “Sami`allahu liman hamidah (Allah mendengar hamba yang memuji-Nya)”.

Selesai shalat, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa beliau ruku` lama sekali dan bacaan yang dibaca di saat bangkit dari ruku` bukan takbir seperti biasanya.

Rasulullah SAW menjelaskan, “Pada saat hendak ruku`, Malaikat Jibril AS datang dan menahanku untuk tidak segera bangkit, menunggu kedatangan Ali, karena Allah SWT ridha dengan apa yang dilakukan oleh Ali dengan menunjukkan ketinggian akhlaqnya, sekalipun itu kepada orang Yahudi, dan Allah mendengar pujian yang diucapkan oleh Ali. Itulah sebabnya aku mengucapkan ’Sami`allahu liman hamidah’.”
Setelah Anjing-Anjing Itu Kenyang
Dalam riwayat yang lain diceritkan, suatu saat Imam Ahmad bin Hambal datang ke suatu tempat yang jauh dari negerinya untuk mengambil hadits dari seorang ulama yang dia ketahui banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW.
 
Sesampainya di kediaman sang syaikh, Imam Ahmad menjumpai syaikh itu sedang memberi makan puluhan ekor anjing.

Melihat kedatangan Imam Ahmad, sang syaikh mempersilakannya untuk menunggu di dalam rumah.
Imam Ahmad masuk ke dalam rumah dan duduk menunggu syaikh memberikan hadits kepadanya.

Setelah beberapa lama ia menunggu, syaikh tak juga kunjung masuk ke dalam rumah menemuinya, seakan-akan syaikh tidak mempedulikan kedatangannya. Merasa terlalu lama tidak diperhatikan oleh tuan rumah, Imam Ahmad bermaksud beranjak dari tempat duduknya untuk menemui syaikh. Namun, tiba-tiba syaikh muncul dari luar dan menghampirinya.

Setelah bertanya asal, maksud, dan tujuan Imam Ahmad, sang syaikh berkata, “Mohon maaf bila aku tidak segera menemuimu dan memenuhi harapanmu datang kemari. Aku melakukan ini karena mengamalkan hadits Rasulullah SAW, ‘Barang siapa memutuskan harapan seseorang yang berharap padanya, niscaya Allah memutuskan harapannya, dan orang tersebut tidak akan masuk ke dalam surga.’ Aku mengetahui engkau mengharapkan sesuatu dariku. Namun di depan tadi ada banyak sekali anjing yang datang, tidak seperti biasanya. Mereka datang dalam keadaan lapar. Mereka tengah mengharap makanan dariku. Itulah sebabnya aku memenuhi dahulu harapan mereka, karena lebih dahulu datang ke tempat ini daripada engkau. Setelah harapan mereka terpenuhi dan semuanya merasa kenyang dengan makanan yang aku berikan, barulah aku menemuimu di sini.”

Imam Ahmad kagum dengan ketinggian akhlaq dan ketaqwaan syaikh yang didatanginya itu, dan ia pun kemudian mengambil hadits yang syaikh sampaikan tersebut dan meriwayatkannya.

Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf

Riwayat-riwayat yang penuh teladan ini disampaikan oleh Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf di majelis bulanan Zawiyah alKisah (15/4), yang juga disiarkan secara langsung oleh Radio Wadi 102 FM.

Meskipun kesehatannya kurang mengizinkan, Habib Umar, atau yang biasa disapa Ust. Umar, tetap datang ke majelis untuk memenuhi harapan majalah alKisah, karena ia ingin senantiasa menjalankan pesan Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal tersebut.

Selain itu, Habib Umar juga menekankan kepada jama’ah pentingnya berdzikir kepada Allah SWT. Karena dzikir adalah sebaik-baik amal di sisi Allah SWT. “Pergunakan waktu-waktu kita untuk selalu berdzikir kepada Allah. Karena setiap manusia yang meninggalkan dunia pasti akan menyesal. Sebagaimana sabda Nabi SAW, ‘Setiap anak Adam yang meninggal dunia pasti akan menyesal terhadap apa yang diperbuatnya. Yang shalih menyesal karena merasa kurang kebaikan-kebaikan yang ia lakukan selama di dunia. Dan yang durhaka menyesal karena tidak ada amal kebajikan yang dijadikan bekal untuk akhiratnya.’ Dan majelis dzikir yang paling utama, menurut para ulama, adalah majelis dzikir yang mengajarkan bagaimana kita shalat, puasa, zakat, dan seterusnya, yaitu majelis-majelis ilmu. Majelis yang mengajarkan bagaimana kita benar dalam beribadah kepada Allah SWT.”

Ratusan jama’ah yang hadir terlena dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh Habib Umar. Udara yang sepoi-sepoi dan cuaca di luar yang mendadak teduh karena awan menutupi terik matahari, ditambah dengan alunan qashidah-qashidah indah yang dilantunkan oleh duet merdu Habib Muhammad bin Zeid Alhabsyi, dari Radio Wadi, dan Ali Sibra Malisi, dari alKisah, sebelum pembacaan Wirdul Lathif di mulai, menambah khidmat suasana majelis Zawiyah alKisah.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Karena masih ada majelis yang harus dituju, Habib Umar terpaksa menutup majelis sebelum mendekati maghrib. Namun sebelumnya ia memberikan waktu beberapa menit kepada jama’ah untuk bertanya.

Dua orang jama’ah, Bapak Suharso, Rawamangun (Dari ES: Kalau tidak salah dari Rawasari), dan Bapak Adi, Pulo Gadung (Kalau tidak salah dari Tangerang), mengajukan pertanyaan. Habib Umar memberikan jawaban singkat tapi sangat memuaskan.

Kemudian majelis pun ditutup dengan doa oleh Habib Umar, dilanjutkan dengan ramah tamah. Suguhan khas kopi jahe ala habaib dan snack ringan melengkapi senyum jama’ah yang hadir. Senyum yang akan menjadi saksi pada hari Kiamat nanti terhadap kecintaan tulus mereka kepada dzuriyah Rasulullah SAW, ulama, dan ilmu….  
Continue Reading

Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban

 : عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصُومُ شَهْرًا، أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُولُ : خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ، مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا

( صحيح البخاري )

Dari Aisyah ra : tiada pernah Nabi saw berpuasa (puasa sunnah) disuatu bulan (selain ramadhan) lebih banyak dari bulan sya’ban, dan sungguh beliau saw berpuasa hampir seluruh hari bulan sya’ban, dan beliau saw bersabda : ambillah (amalkanlah) dari amal-amal ibadah semampu kalian, maka sungguh Allah swt tiada akan bosan, hingga kalian bosan” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan Puji Kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Memiliki Masa, Yang Maha Memiliki zaman,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(QS. Al ‘Ashr)

“Demi Masa”

Kalimat Demi Masa, sumpahnya Allah subhanahu wata'ala, sudah merangkum seluruh kejadian sejak Alam di cipta hingga alam ini berakhir, seluruh kesedihan dan kenikmatan, tegak dan duduk, bergerak dan diam, setiap ucapan, setiap ruh, setiap nafas, setiap bentuk, setiap sifat, setiap kejadian semuanya berada di dalam kandungan “Masa”.

Allah merangkum seluruh kejadian itu dalam satu kalimat “Demi Masa”

Lewatlah seluruh kehidupan yang dalam kenikmatan atau yang dalam kesusahan, yang dalam kebahagiaan atau dalam kesulitan, yang di dalam tempat – tempat yang mewah, atau di gubug – gubug yang di kota atau yang di desa, yang pria atau yang wanita, yang kelaparan atau yang kekenyangan, yang terus bisa tidur, yang terus sulit tidur, terus demikian kejadian terjadi dan berputar dari generasi ke generasi.

Allah menjawab :

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“manusia dalam keadaan yang merugi”

Lewati seluruh keadaan itu, kenikmatan kesusahan, kesedihan kesenangan,
siang malam, kaya miskin, semua itu rugi bagi Manusia, tidak ada keuntungannya

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Kecuali orang – orang yang beriman, dan berbuat amal saleh, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran”
Tidak rugi dia, dia beruntung melewati itu semua, siang dan malamnya beruntung, susah senangnya beruntung, dalam keadaan kehidupannya beruntung, siangnya beruntung, bergeraknya beruntung, ia terus beruntung

Beramal Shaleh, di sempurnakan lagi dengan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran maka orang – orang seperti itulah yang menemui keberuntungan di dalam melewati masa hidupnya, yang hanya sebutir debu kecil di banding “Masa” secara keseluruannya.

Hadirin, dalam satu generasi saja sudah terjadi triliyunan kejadian dalam setiap detik, triliyunan lintasan pemikiran dalam setiap kejap terus berputar di alam semesta ini, segenap pemikiran, cita – cita, kebencian, keirian, kedengkian, kecintaan, kerinduan, semangat, rencana, semua itu terus bergejolak dalam pikiran manusia dan itu jumlahnya triliyunan di permukaan bumi ini, bisa juga apa yang melintas oleh hewan – hewan, yang menginginkan makanan, yang sedang kelaparan, yang sedang mencari air dan lain sebagainya, kesemua itu terangkum di dalam “Masa”.

Hadirin hadirat, kesemuanya manusia didalam kerugian kata Allah subhanahu wata'ala, kecuali yang beriman yang beramal saleh, yang menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran, mereka – mereka ini tidak rugi.

Empat hal ini :
Iman, Amal saleh, menasihati dalam kebenaran, menasihati dalam kesabaran,
Empat hal ini bisa di padu, bisa di ringkas lagi menjadi apa ?
Tuntunan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“manusia itu di dalam kerugian”
Kecuali yang mengikuti Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Dia beruntung di dunia tidak juga rugi di akhirat, ia susah di dunia hanya menjadi penyebab keberuntungannya di masa mendatang dunia dan akhirat, demikian keadaan mereka yang beriman dan dekat dengan Allah, tidak ada ruginya melewati hari – hari, tidak rugi dalam kesenangannya, dalam kesusahannya, dalam siangnya, dalam malamnya, dia tidak di rugikan, selalu beruntung, dia melewati dosa, dia didekatkan dengan pengampunan Allah, seraya berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“semua makhluk dan hewan dan makhluk hidup yang ada di bumi dan yang terbang di udara dan semua yang hidup . kecuali kelompok – kelompok seperti umat – umat diantara kalian ada kelompok – kelompoknya . tidak kami sisakan dan kami hapuskan dan kami sia – siakan dari pada ketentuan mereka sesuatu pun kecuali semua itu nanti . lalu mereka akan di kirim untuk berkumpul kehadapan pemilik mereka kelak yang memberi mereka kehidupan, burung itu rizqinya, burung itu takdirnya demikian pula hewan, lalat, nyamuk sampai virus dan sel terkecil apakan menjalankan tugas yang di perintahkan Allah” (QS Al An’am 38)

Hadirin hadirat, bunga di beri tugas oleh Allah, pohon di beri tugas, tanah di beri tugas, matahari di beri tugas, bulan di beri tugas, semua makhluk ciptaan Allah di beri tugas,
manusia di beri tugas, apa tugasku dan kalian ?
tugasku dan kalian banyak, ringkasnya mengikuti Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Malam yang agung ini, malam perpisahan kita dengan pergantian malam dan malam pertemuan kita dengan bulan Sya’ban, inilah malam 1 Sya’ban, di dalam perhitungan hijriah, berpindahnya hari itu, pindahan hari itu bukan jam 12 malam, kalau tahun masehi, bulannya memang jam 12 malam, tapi kalau perhitungan Hijriah terbenamnya matahari, terbenamnya matahari tadi adalah berpisahnya kita dengan bulan Rajab dan terbenamnya matahari tadi malam ini mengawali malam 1 Sya’ban.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sebagaimana riwayat Shahih Bukhari tadi, riwayat Sayyidatuna Aisyah radhiyallahu'anhum:

: عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَت
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَصُومُ شَهْرًا، أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَكَانَ يَقُولُ : خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ، مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا

( صحيح البخاري )

“tidak pernah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam itu berpuasa banyak (puasa sunnah selain Ramadhan) sebanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, dan beliau saw bersaba ambillah amal ibadah (sunnah) menurut kemampuan kalian, sungguh Allah swt tak akan bosan menerima ibadah hingga kalian bosan (kelelahan) ”(Shahih Bukhari)

Dalam satu kali pernah beliau melakukan puasa Sya’ban, semuanya yaitu sebagian besar,
Di riwayatkan di jelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari, yang di maksud di dalam hadits ini adalah bukan maksudnya seluruh Sya’ban dari tanggal 1 sampai dengan akhir, karena akhir Sya’ban itu makruh sebagian mengatakan haram berpuasa karena hari terakhir menuju Ramadhan, namun sebagian mengatakan makruh.

Al Imam Ibn Hajar mengatakan yang di maksud Sya’ban kesemuanya (Sya’ban Kullahu) adalah yang sebagian besarnya bulan Sya’ban itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa.

Maka Al Imam Ibn Hajar juga menjawab tentang kenapa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa di bulan Sya’ban sangat banyak? Padahal beliau mensunnahkan ibadah sunnah, juga puasa di bulan – bulan haram yaitu dzul’qaidah, dzulhijjah, muharram dan rajab, Sya’ban bukan bulan Haram, kenapa Rasul lebih banyak puasa di bulan Sya’ban dari pada bulan lainnya, maka di jawab oleh Al Imam Ibn Hajar pertanyaan itu bahwa teriwayatkan, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam baru di wahyukan oleh Allah kemuliaan bulan Sya’ban diakhir akhir sebelum wafatnya, tahun – tahun terakhir sebelum wafatnya baru di wahyukan oleh Jibril kemuliaan bulan Sya’ban, baru beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Demikian, dan tentunya bukan hanya puasa saja yang di sunnahkan di bulan Sya’ban ini,
Hadirin hadirat, Sang Maha Pemilik waktu dan masa, tidak menyisakan satu detik pun kecuali rahasia kedermawanan Nya terbuka, gerbang taubat Nya terbentang luas, limpahan anugrah Nya tidak pernah berhenti, ia berhenti kadang – kadang do’a tidak di kabulkan padamu tapi pada jutaan lainnya Allah sedang mengabulkan do’a mereka.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Namun Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“berbaik – baiklah didalam kehidupan, sebagaimana Allah berbaik – baik padamu” (QS Al Qashash 77)

Allah berbuat yang terbaik untuk kita, maka berbuatlah yang terbaik untuk Allah subhanahu wata'ala, Allah akan berikan lagi yang lebih baik lagi dari kita dan membenahi keadaan kita seraya berfirman :

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

“sunggguh orang – orang yang beriman, beramal saleh dan juga beriman pada apa yang di turunkan pada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau itu kebenaran, pembawa kebenaran dari Tuhan mereka (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), Allah hapuskan segala kesalahan – kesalahan mereka (yang mau mengikuti Sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), Allah hapuskan kesalahan – kesalahan mereka, dan Allah perbaiki keadaan mereka” (QS Muhammad 2)
Hadirin hadirat semakin kita mendekat pada Allah, semakin Allah perbaiki keadaan kita.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Bulan Sya’ban juga sebagaimana Hadits yang tadi kita dengar bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam paling banyak puasa di bulan Sya’ban dan juga Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa hampir 1 bulan penuh dan Hadits selanjutnya adalah :

خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ، مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا (صحيح البخاري)

“berbuatlah amal itu semampumu, jangan melebihi kemampuan kata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sungguh Allah tidak akan pernah bosan, kalian yang akan mempunyai sifat bosan”

Manusia mempunyai sifat bosan, Allah tidak ada bosannya maka ambillah dari amal ibadah itu semampu kalian jangan paksakan lebih dari pada kemampuan kita

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ
“Allah itu tidak akan ada bosannya”

Allah akan terus gembira dengan ibadahmu, tapi kalian sendiri nanti yang akhirnya kelelahan sendiri, akhirnya bosan untuk memperbanyak ibadah, maka lebih baik kita menjaga ibadah hanya sekedar sekemampuan kita saja, karena kalau di paksakan nanti akhirnya kelelahan sendiri dan meninggalkan ibadah itu.

Saudara saudariku yang kumuliakan,
Hadits ini juga membuka rahasia keluhuran, bahwa Allah subhanahu wata'ala menyambut amal – amal hambanya sekedar kemampunanya, tidak ada perhitungan umum tapi perhitungan pribadi dimata Allah subhanahu wata'ala, semampunya hambanya itulah yang akan membuat pertanyaan dari Allah kelak hambanya sudah mampu tapi tidak melakukan itu yang akan di pertanggung jawabkan dan akan melewati barangkali kesusahan, tersiksa di dunia musibah atau di sakaratulmaut atau di kubur atau di Neraka, karena mampu tapi tidak mau, beda dengan yang tidak mampu tidak pernah akan di bebani, Allah tidak akan memaksa

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak akan memaksakan manusia kecuali dengan kemampuannya” (QS Albaqarah 286)
Dan Sang Maha baik dan Maha Lembut selalu meyeru kita oleh keluhuran.
Bukankan Allah subhanahu wata'ala telah berfirman di dalam hadits qudsi kepada Nabiyallah Daud 'Alaihi Salaam :

يا داود، لو يعلمون المدبرون عني شوقي لعودتهم، ومحبتي لتوبتهم، ورغبني لإنابتهم، لطاروا شوقا الي، يا داود هذا للمدبرين عني، فكيف للمقبلين عني؟

“Wahai Daud kalau seandainya orang – orang yang berpaling dari Ku itu menghindari kemuliaan dan selalu berbuat kehinaan, kalau mereka tau betapa rindunya Aku kepada kembalinya mereka kepada Ku, kalau mereka tau getaran dahsyatnya rindu Ku pada mereka, jika mereka mau kembali, betapa cintanya Aku kepada mereka, atas Taubat mereka, kalau mereka tau betapa besar dan bagaimana dahsyatnya Cinta Ku pada hamba Ku jika ia ingin bertaubat dan besarnya semangatku menyambut hamba – hamba KU yang ingin banyak beribadah, mereka tidak tau wahai Daud dahsyatnya kerinduan Ku dan dahsyatnya cinta Ku dan dahsyatnya hangatnya sambutan Ku, jika mereka tau mereka akan bisa meninggalkan dirinya, untuk terbang kehadapan Ku karena rindu ingin berjumpa dengan Ku, mereka tidak akan menguasai jasadnya untuk segera sampai kehadapan Ku karena rindu kepada Kuو Wahai Daud itulah Cinta Ku, rindu Ku dan sambutan hangat Ku pada para pendosa dan mereka yang berpaling jika mau bertaubat, maka bagaimana cinta Ku pada hamba – hamba Ku yang baik” (Taujihunnabiih Limardhaati baarih oleh Al Munsid Al Allamah Alhabib Umar bin Hafidh)

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian rindu Nya Allah, bagi mereka yang mau memahami perasaan Allah dan Cinta Nya memanggil kita untuk bertaubat dan rindu Nya memanggil kita unuk kembali kepada keridhaan Nya, dan semangat kehangatan sambutan Nya, memanggil kita untuk siap melimpahi anugrah jika kita ingin memperbanyak ibadah, Maka terimalah Cinta Nya Allah, rindu Nya Allah dan sambutan hangatnya di dunia dan akhirat, bahkan lebih.
Dan merugilah mereka yang menolaknya, dan merugi mereka yang di tawari Cinta Nya Allah mereka menolaknya

Kelak di hari kebangkitan Allah akan memanggil namamu, namaku maju menghadap, fulan bin fulan di perintahkan maju kehadapan Allah,
Saat itu hari pertanggungan jawab,
Hambaku kau menolak cinta Ku, hambaku kau menolak rindu Ku .........

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ . وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ . وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ . وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ . عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ . يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ . الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ . فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ . كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ . وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ . كِرَامًا كَاتِبِينَ . يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ . إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ . وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ . يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ . وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ . ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ . يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

(QS. AL INFITHAAR)

Hadirin, Allah subhanahu wata'ala berfirman :

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ
“ketika langit terbelah…”

وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
“ketika laut naik keatas permukaan bumi…”

bercampur dengan Lava (lahar yang ada di perut Bumi) muntah keluar ke atas daratan, gelombang lautan itu sudah menjadi lahar panas (karena bercampur dengan Lava yang ada di perut bumi),
setelah itu bumipun di ratakan, setelah itu bumi bukan menjadi bulat tapi menjadi lempengan (lebar bentuk padang mahsyar),

وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ
“semua kubur di bongkar oleh para malaikat...”
Mereka di perintahkan untuk menghadap,

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
“tahulah manusia apa yang telah ia lakukan dulunya dan apa yang akan dia terima dari balasannya”

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Wahai manusia apa yang membuatmu meninggalkan Tuhan Mu yang Maha Pemurah..”

Maka di saat itu apa yang harus kita jawab ?
Adakah kedermawanan melebihi kedermawanan Nya ?
Adakah kelembutan melebihi kelembutan Nya ?
Adakah Dunia dan akhirat tidak cukup bagi kita untuk di dapatkan kebahagiaan yang kekal ?
Allah subhanahu wata'ala telah menjanjikan kebahagiaan yang kekal, tidak ada fitnah, tidak ada masalah, tidak ada musibah, tidak ada penyakit, tidak ada apapun yang membuat kita sedih yang ada kebahagiaan yang kekal apa yang kurang pada diriku kata Allah subhanahu wata'ala ?

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ، الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ ، فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

“ apa yang membuatmu tertipu hingga meninggalkan Tuhan mu yang Maha pemurah, yang menciptamu dari tiada dan mencipta postur tubuhmu sebagai mana yang terjadi pada dirimu dengan bentuk yang telah ditentukan oleh Allah Swt”

كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ، وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ، كِرَامًا كَاتِبِينَ، يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ، إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيم

“namun sebagian dari kalian mendustakan Ku kata Allah, mendustakan agama Allah, mendustakan tuntunan ilahi, padahal kalian itu ada yang mengawasi, yang mengetahui apa yang kalian perbuat, malaikat yang berada dikanan dan kiri kita terus mencatat perasaan, pemikiran dan perbuatan dan ucapan kita, sungguh orang orang yang baik mereka yang berada didalam kenikmatannya kekal”

selesai semua, selesai semuanya apa – apa yang mereka bingungkan, selesai tidak ada lagi kebingungan,

وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ، يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ، وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ

“ mereka yang berbuat kehinaan tempatnya di neraka jahim, mereka menolak cinta Ku, mereka menolak rindu pada Ku, mereka menolak menyembah Ku, mereka terus menyekutukan Ku, tempat mereka neraka jahim, mereka menolak kasih sayang Ku, mereka menolak pengampunan Ku, mereka menolak Rahmat Ku, mereka menolak menghadap kepada Ku, mereka terus berdoa dan meminta dan tidak meminta kepada Ku, mereka lewatkan hari – harinya dengan pengingkaran dan kehinaan dan terus berbuat dzhalim atas dirinya, dan atas orang lain, tempat nya neraka jahim, mereka akan memasuki neraka jahim para pembuat kehinaan, kerusakan, kedzhaliman”

yang barangkali kita sekarang sudah gerang dengan perbuatan jahat yang barangkali tidak tertindak, namun akan datang waktunya mahkamah terluhur mengadili semua kejadian dengan seadil adilnya tempat yang berbuat jahat adalah neraka jahim, tempat yang mencintai sang Nabi dan beriman kepada Allah saw adalah kenikmatan yang kekal,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ، يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ.

“ tahu kah kalian hari kebangkitan itu dan tahu kah kalian hari kebangkitan itu, hari dimana manusia tidak lagi memiliki dirinya, hari itu semua masalah kembali kepada Allah subhanahu wata'ala”

ia punya tangan tangan yang tidak bisa diperintah tangan yang bersaksi atas dosa – dosanya, tangan yang bersaksi atas pahalanya, tangan yang bisa berkhianat padanya dan bisa berbakti padanya selama ia bakti pada Allah anggota tubuhnya bakti padanya untuk membelanya.

ketika salah seorang hamba ditimbang dalam timbangan amal lalu ia di perintahkan untuk masuk kedalam neraka karena sudah kehabisan amal, dosa nya lebih banyak dari pahala lalu matanya menjerit kepada Allah, Wahai Allah aku tidak mau masuk kedalam neraka karena NabiMu Muhammad Saw telah bersabda bahwa para mata yang mengalirkan air mata karena saat berdzikir memanggil nama Mu maka tidak akan disiksa oleh Allah subhanahu wata'ala, maka aku tidak mau masuk neraka biarkan tubuh yang lain masuk neraka, aku tidak mau masuk karena sudah janji Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka Allah subhanahu wata'ala memerintahkan hamba itu keluar dari neraka maka teriaklah Jibril Alaihi Salaam :

“hamba Allah, umat Muhammad subhanahu wata'ala salah seorang umat Muhammad mendapat syafa’at sebab air matanya”

setetes air matanya mengalir saat ia berdoa kepada Allah, ia di syafa’ati oleh matanya sendiri hadirin hadirat sabda Rasul riwayat Shahih Bukhari salah satu dari kelompok yang dinaungi Allah :

رَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“ orang yang mengingat Allah, saat ia mengingat Allah, saat ia merenung tafakkur mengingat Allah, rindu dia kepada Allah, cinta dan haru ia kepada Allah, mengalirlah tetesan – tetesan air matanya”

Para salafu shaleh kalau mereka berdoa lalu menangis mereka mengusapkan air matanya keseluruh tubuhnya, keseluruh wajahnya untuk mengambil kemuliaan dan keberkahan dari air mata khusyu’.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah subhanahu wata'ala Maha luhur, bulan ini bulan sya’ban terdapat banyak hal – hal tabu di bulan ini diantaranya berpindahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke masjidil Haram dengan doa dan keinginan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam surat al Baqarah dijelaskan

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Kami (kata Allah), Aku melihat kau sudah ingin, wajahmu terlihat menoleh noleh kelangit menanti perintah” (QS Al Baqarah 144)

maksudnya apa? Berharap agar kiblat dipindahkan, kenapa kiblat ke palestina? Karena saat itu Allah subhanahu wata'ala memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkiblat kepalestina agar orang – orang yahudi masuk islam, orang yahudi masuk islam karena merasa kiblatnya sama dengan muslim, namun ketika Rasul memindahkan kiblatnya ke ka’bah, maka banyak orang – orang yahudi yang protes hingga mereka mundur dari masuk islam.

Hadirin hadirat yang dimuliakna Allah,
Aku melihat kau kata Allah subhanahu wata'ala, kau sudah berpaling menoleh menanti keputusan turunnya ayat untuk diizinkan pindah kiblat, karena kiblat hanya arah saja, bukan ka’bah itu adalah Allah, banyak arah untuk mengarahkan jasad kita kesatu arah diseluruh dunia ini dalam melakukan shalat kita hanya dibutuhkan arah saja, Masjidil Aqsa, mau kemana, mau kemana cuma Rasul shallallahu 'alaihi wasallam ingin merubah ke Masjidil Haram,

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Allah berkata’’ kami hadapkan engkau ke kiblat yang engkau inginkan wahai Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam”

Rasul inginkan kiblat ke ka’bah Allah berkata
”akan kami palingkan engkau pada kiblat yang engkau inginkan” maka Rasul menghadapkan dirinya ke ka’bah maka turun lagi kalimat selanjutnya :

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

setelah beliau menghadapkan dirinya ke ka’bah Masjidil Haram, turun lagi kalimat
“maka hadapkan wajahmu mulai saat ini ke Masjidil Haram jika melakukan shalat”

kiblat itu tidak punya satu norma apa – apa tapi karena di pilih oleh Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Rasul tidak memilih ka’bah sebagai kiblat, masih palestina kiblat kita, Allah Maha tau kiblat itu nantinya di ka’bah bukan dipalestina jadi Allah menanti dan ingin menunjukan pada umat ini betapa Allah mencintai dan tidak ingin melukai perasaan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ini yang ingin Allah ingin tunjukkan pada ummatnya, ummat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar faham kiblat sampai berubah dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menginginkannya Allah palingkan kiblat itu ke ka’bah mudah saja Allah menggantikan kiblat ke arah yang di inginkan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat Allah munculkan hal itu didalam Al Qur’anul karim itu terjadi di bulan sya’ban demikian kejadian itu diriwayatkan didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari
oleh hujjatul islam al Iman Ibn Hajar Al Asqalaniy dan juga lainnya bahwa kejadian itu terjadi di bulan sya’ban dan pada bulan sya’ban bukan hanya itu, tapi peperangan bani mushthaliq terjadi di bulan sya’ban, dan juga peperangan tabuk terjadi di bulan sya’ban dan juga dibulan sya’ban kelahiran Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib Kw, Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib lahir dibulan sya’ban didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari oleh hujjatul islam al imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa kelahiran Sayyidina Husain itu dibulan sya’ban tahun ke 4 hijriyah dan wafat pada tahun 51 atau 52 hijriyah di Karbala di Iraq, wafatnya disitu Sayyidina Husain bin ali cucunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Yang terakhir yang saya sampaikan dibulan sya’ban ini juga turunnya firman Allah subhanahu wata'ala :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَ ئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِ ينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para malaikat melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, wahai orang – orang yang beriman perbanyak shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan seindah indahnya salam” )QS Al Ahzab 56)

inilah kejadiannya dibulan sya’ban dijelaskan oleh hujjatul islam wabarakatul al iman Jalaludin Abdurrahman Assuyuthi didalam kitab Asyifa asbabul nuzulnya.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
jelaslah bulan sya’ban banyak sekali kemuliaan dan kepadanya terdapat malam nisfu sya’ban, malam pertengahan sya’ban yang sangat padanya mengandung banyak keluhuran dan bulan sya’ban ini mengingatkan kita pada bulan teragung dan hari – hari teragung, siang – siang teragung, malam – malam teragung yaitu Ramadhan al mukaram yang setiap harinya pahala dilipatkan 700 kali lipat dan lebih, karena diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa pahala dilipat kalikan 10 kali dan 700 kali lipat demikian riwayat Shahih Muslim, namun didalam shahih Muslim disebutkan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat atau lebih dalam Shahih Muslim demikian penafsiran al imam Nawawi didalam syarah Nawawi pada Shahih Muslim dijelaskan kalau yang 10 kali lipat itu pada waktu biasa dan biasa bertambah disaat saat lain, misalnya dimajelis ta’lim, dimajelis dzikir, tanah suci, dibulan suci, di hari suci itu bias mencapai 700 kali lipat khususnya dibulan Ramadhan setiap amalan dikalikan 700 kali lipat.

Hadirin hadirat kita puasa sebulan sama dengan puasa 700 bulan karena digandakan 700 kali lipat, 700 bulan tidak berapa lama dibagi 12. Hadirin hadirat demikian pahalannya Ramadhan secara harfiah saja tapi lebih dari itu karena Allah subhanahu wata'ala menyampaikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shahih Bukhari akan kita lewati haditsnya nanti bahwa bagi puasa itu Allah subhanahu wata'ala yang membalasnya langsung, bukan dengan perhitungan 10, 20,100,700 Allah subhanahu wata'ala yang membalas langsung.
“Puasa, khusus ibadah puasa itu untuk Ku kata Allah subhanahu wata'ala, Aku sendiri yang akan mengganjarnya”
kalau sudah Allah yang mengganjar bukan urusan munkar nakir nulis 700 kali lipat, langsung Rabbul’alamin yang memberikan lebih dan lebih dan lebih.

Hadirin hadirat yang dimuliakna Allah,
saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiyah semoga Allah subhanahu wata'ala memuliakan hari – hari kita, semoga kita memasuki malam 1 sya’ban dengan seindah – indah keadaan dan meninggalkan seluruh dosa – dosa kita selesai dengan berpisahnya kita dengan bulan Rajab, hingga rajab membawa seluruh dosa – dosa kita kepada rahasia pengampunan Allah subhanahu wata'ala, masuklah kita kedalam sya’ban.

Rabbiy cabut kami dari segala kesusahan, cabut kami dari segala rintangan, cabutlah dari fitnah dan segala apa yang mempersulit ibadah kami dan merintangi kami, singkirkan musibah yang datang pada kami, lunaskan semua hutang – hutang kami selesaikan segenap hajat kami, jangan Kau lewatkan malam ini kecuali esok terbit dengan segala jawaban doa – doa kami,

Ya Rahman Ya Rahim jangan kau terbitkan matahari esok kecuali Kau jawab seluruh doa jama’ah yang hadir semua, Kau jawab seluruh wajah – wajah kami ini esok pagi sudah cerah terang benderang menghadapi kabar – kabar gembira atas jawaban doa – doa kami.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Tunjukan Keagungan Nama Mu ya Allah, buktikan keagungan dzikir menyebut Nama Mu ya Allah, agar kami tau betapa Agungnya ke Agungan Nama Mu, betapa besar anugerah yang Kau Limpahkan bagi mereka yang menyebut Nama Mu

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْن


Continue Reading